Senin, 22 Desember 2014

Penerapan Filsafat Eksistensialisme dalam Komponen Pendidikan

A. Pengertian filsafat eksistensialisme Eksistensialisme adalah filsafat yang memusatkan pada kebebasan individu (apa yang dilakukan orang ditentukan oleh orang itu sendiri, bukan oleh hukum sosial atau struktur sosial). Eksistensialisme sebagai suatu gerakan dapat ditelusuri asalnya dari soren Kierkegaard (1813-1855) dan berutang banyak pada tulisan-tulisan friedrich nietzsche. Penekanan pokok Kierkegaard adalah pada teori subjektivitas kebenaran, yeng telah menjadi landasan bagi keseluruhan pendekatan eksistensis. Eksistensialisme Memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif , subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini : jean paul satre, soren kierkagaard, martin buber, martin Heidegger, karl jasper, gabril marcel, paul Tillich. B. Kajian eksistensialisme tentang ontologi : Filsafat eksistensialisme merupakan salah satu paham yang muncul dikarenakan ketidakpuasan beberapa filosof terhadap filsafat pada masa yunani hingga modern. Mulai dari materialisme, idealisme, hingga reaksi terhadap dunia pada umumnya dan khususnya Eropa Barat yang saat itu sedang mengalami perang dunia ke II. Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia, sama seperti hewan dan pohon yang ada di dunia. Namun, cara berada manusia berbeda dengan benda-benda lain. Manusia menyadari dirinya berada di dunia, mereka menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti apa yang dihadapinya berbeda dengan hewan dan benda-benda mati lainnya. Manusia mengerti guna pohon, mengerti bahwa hidup mereka memiliki arti. Munculnya eksistensialisme merupakan gerakan filosofis yang muncul di Jerman setelah perang dunia I dan berkembang di Perancis setelah perang dunia II. Kemudian munculnya eksistensialisme juga didorong oleh situasi dunia secara umum, terutama dunia Eropa barat. Pada waktu itu kondisi dunia pada umumnya tidak menentu akibat perang. Dimana-mana terjadi krisis nilai. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Manusia melupakan individualitasnya, dari sanalah para filosofberfikir dan mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut. Dari proses itulah lahir eksistensialisme. Eksistensialisme menyeruak dunia filsafat semenjak perang dunia II (sutrisno : 1987). Diantara para tokohnya adalah Heidegger, Gabriel eksistensialisme a marcel, nietsze, kieerkegaard, Sartre, jaspers, dan levinas. Dan yang dianggap bapak dalah soren kiekeergaard. C. kajian eksistensialisme tentang epistemologis seperti yang telah kita amati, tekanan yang berlebihan pada logika analitik sering menimbulkan pandangan yang mengabaikan semua mitos dalam pencarian system ilmiah. Sejauh mana filsuf-filsuf membolehkan cara pikir mitologis untuk membedah realitas berdasarkan fakta-fakta dan memainkan peran untuk mengukur sejauh mana mereka mengakui beberapa bentuk logika sinetik sebagai komplemen logika analitik yang sah. Ini berlaku dalam ajaran filsafat eksistensialisme. Filsafat eksistensialisme, sebuah aliran yang pendukung-pendukungnya cenderung lebih menekankan logika sinetik daripada logika analitik. Gerakan ini berpengaruh dominan di dunia filsafat yang disebut “daratan”, khususnya selama abad ke-20. Pada realitasnya, banyak hal dalam kegiatan keempat mata kuliah ini yang mengenai persoalan-persoalan yang diangkat terutama oleh para filsuf eksistensialis dalam upaya mereka untuk menerapkan pemikiran filosofis untuk meningkatkan pemahaman kita tentang pengalaman manusia yang konkret. D. kajian eksistensialisme tentang aksiologis smith dan rapper menyebutkan bahwa filsafat eksistensialisme ini merupakan filsafat para pemberontak. Untuk dapat melacak kajian aksiologi dapat dilihat pada dampak yang muncul dari ajaran filsafat eksistensialisme, salah satunya dapat kita lihat dari pengaruh pemikiran eksistensialisme dalam teologi politik. Teologi politik yang dimaksud adalah suatu pandangan politik yang menganut asas keyakinan dibidang politik tertentu, yang salah satunya menganut prinsip filsafat eksistensialisme. Sebagai contoh adalah pengaruh filsafat eksistensialisme dalam konsep teologi politik carl-schmith. Aksiologis juga berhubungan erat dengan nilai (etika dan estetika). Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih dan diambil. Etika sebagai tuntunan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti orang. Nilai keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya. E. Aliran eksistensialisme dengan pendidikan Kalangan eksistensialisme “terganggu” akan apa yang mereka dapatkan pada kemapanan pendidikan. Mereka dengan segera menegaskan bahwa banyak dari apa yang disebut pendidikan yang sebenarnya tidaklah apa-apa kecuali propaganda yang digunakan untuk melihat audiens. Mereka juga mengungkapkan bahwa banyak dari apa yang dewasa ini dianggap pendidikan sejati adalah sesuatu yang membahayakan, karena ia menyimpan peserta didik untuk konsumerisme atau menjadikannya sebagai tenaga penggerak dalam mesin teknologi industrial dan biroklasi modern. Bukan malah mengembangkan individualitas dan kreativitas, keluh kalangan eksisteansialis, banyak pendidikan justru memusnahkan sifat-sifat kemanusiaan yang pokok. Eksistensialisme sangat berhubungan erat dengan pendidikan karena pusat pemkiran eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Penerapan filsafat eksistensialisme dalam komponen pendidikan antara lain : a) Tujuan pendidikan Menurut aliran eksistensialisme tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif kepada para siswa dalam semua bentuk kehidupan. b) Kurikulum Eksistensialisme menyatakan bahwa Kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang memberikan kebebasan individual yang luas bagi para siswa agar mereka mampu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanaan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri. Dengan kata lain, yang diutamakan adalah kurikulum liberal, yang merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Menurut eksistensialisme, mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Menurut aliran ini, semua mata pelajaran memiliki kedudukan sama. Karena setiap anak membutuhkan mata pelajaran yang berbeda untuk membantu menemukan dirinya. c) Proses belajar mengajar Salah satu tokoh aliran eksistensialisme, martin buberberpandangan tentang “dialog”. Inilah yangmenjadi pengaplikasian konsep belajar mengajar aliran ini. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadimerupakan subjek bagi yang lainnya. Adapun lawan dari dialog adalah “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain sebagai objek. Dalam penerapannya, kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa untuk mengikuti kehndak guru, dimana guru menjadi penguasanya. Agar hubungan antara guru dengan murid menjadi suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan pada murid harus menjadi pengalaman pribadi guru itu, sehingga akan terjadi pertemuan antara pribadi dengan pribadi. d) Peran guru Peran guru bagi kalangan eksistensialisme tidaklah sebagaimana peran guru dalam paham tradisional. Guru eksistensialisme bukanlah sosok yang mempunyai jawaban-jawaban benar tak terbantahkan. Ia lebih sebagai seseorang yang berkemauan membantu para subjek didik mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin. Di dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensialisme menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. F. Tiga kajian dalam filsafat ekstensialisme a. Epistemologi Epistemologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuann yang dimiliki oleh setiap manusia. Epistemologi adalah cabang ilmu fiilsafat yang menegarai masalah-masalah flosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang ersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). atau lebih dengan kata lain, epistemology adalah bagan filsafat yang meneliti asal-usul , asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan memperhatikan definisi epistemologi, bisa dikatakan bahwa tema dan pengkajian epistemologi adalah ilmu, makrifat dan pengetahuan. Dalam hal ini, dua poin akan dijelaskan sebagai betikut : 1) Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushuli. Ilmu iitu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukan batasan dari ilmu itu. 2) Sudut pembahasan, yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat, maka dari sudut mana subyek ini dibahas, karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi, logika, dan pikologi. b. Ontologi Ontologi adalah bagian metafisikayang mempersoalkan tentang hal-hal yang berkenaan dengan segala sesuatu yang ada . dari berbagai definisi dapat disimpulkan bahwa ontologi adalah salah satu bagian penting dalam flisafat yang membahas atau mempermasalhkan hakikat-hakikat semua yang ada baik abstrak maupun rill. Ontologi disini membahas semua yang ada secara universal, berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan meliputi semua realitas dalam segala bentuknya. Jadi objek dari ontologi adalah segala yang ada dan tidak terikat pada satu perwujudan tertentu (hakikat). Hasbullah bakry mengatakan bahwa ontologi mempersoalkan bagaimana menerangkan hakekat segala yang ada baik jasmani maupun rohani dan hubungan antara keduanya. Dalam penyelesaian masalah dan pertanyaan tentang hakekat, lahirlah mazhab-mazhab ontologi yang mencoba menjawab semuanya melalui beberapa pendekata yang berbeda yaitu : naturalism, materialisme, idealism, hylomorphisme, dan logic empirisme. 1) Naturalisme Menurut hasbullah bakry naturalism juga mempersoalkan bagaimana menerangkan hakikat segala yang ada baikk rohani maupun jasmani serta hubungan keduanya. Penganuut naturalism modern beranggaan bahwa kategori pokok tentang kenyataan adalah kejadian-kejadian kealaman. Jadi menurut paham naturalism ini semua kenyataan itu bersifat kealaman yang dapat diketahui dengan berbagai kejadian alam. 2) Materialisme Materialism adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri dan merupakan unsure-unsur yang membentuk alam. Menurut penganut materialism hakikatdari suatu benda adlah benda itu sendiri atau wujud materi dari benda tersebut dan dunia fisik itu adalah satu. 3) Idealisme Idealism adalah pendangan dunia metafisik yang mengatakan bahwa realitas terdiri atas atau sangat erat hubungannya dengan ide-ide, fikiran, akal dan jiwa. Jadi, idealism juga merupakan ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian yang terdapat dalam ruang sampai pada hakikat terdalam dengan menggunakan ide, akal, fikiran-fikiran dan jiwa atu ruh. 4) Hylomorphisme 5) Secara etimologi Hylomorphisme berasal dari bahasa yunani yaitu hylo yang berarti materi atau substansi dan morph atau bentuk. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak satu halpun yang ragawi itu bukan merupakan kesatuan dari esensi dan eksistensi. Esensi adalah segi tertentu dari yang ada yang memasuki akal kita sehingga dapat diketahui atau wujud nyata suatu benda yang pertama kali dapat menyentuh akal kita saat melihatnya. Sedangkan eksistensi adalah hal-hal yang satu demi satu bersifat khusus, mandiri dan mempunyai sarana lengkapmuntuk berada dan berbuat. 6) Logic empirism Logika adalah ilmu yang memberikan peraturan-peraturan yang harus diikuti agar dapat berfikir valid, sedangkan empiris adalah pengalaman-pengalaman atau fakta. Jadi logic empirism disini adalah semua pandangan yang sampai saat ini telah dibicarakan mendasarkan diri pada penalaran akal dan semuanya memakai perangkat fakta yang sama sebagai landasan penopang untuk menunjukan kebenarannya. c. Aksiologi Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. aksiologi adalah istilah yangberasal dari kata yunani yaitu axios yang berarti sesuai atau wajar, Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Aksiologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu snediri. Jadi aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yg sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam aksiologi ada dua ppenilaian yang umum digunakan yaitu: 1) Etika Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Dalam perkembangan sejarah etika ada empat teorietika sebagai system filsafat moral yaitu hedonism, eudemonisme, utiliterisme, dan deontologi. Hedonisme adalah pandangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan kesesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan, dan adapun tujuan dari manusia itu sendiri adalah kebahagiaan. 2) Estetika Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Daftar pustaka http://ekameliyakin.wordpress.com/2013/06/26/aliran-eksistensialisme-filsafat-pendidikan/ http://www.jaringankomputer.org/filsafat-pendidikan-dan-aliran-filsafat-pendidikan/ http:/philosopherscommunity.blogspot.in/2012/05/filsafat-ontologi-epistemologi-dan.html?m=1/ surajiyo,Des.2005.ilmu filsafat (suatu pengantar), djakarta:bvumi aksara http://tahdits.wordpress.com/2013/01/13/pemikiran-filsafat-eksistensialisme/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar