Senin, 22 Desember 2014
Sejarah Makam Syekh Mansyur Cikadueun
Cikadueun adalah desa di Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Indonesia. Mayoritas penduduk desa Cikadueun beragama Islam. Desa Cikadueun telah memiliki sarana pendidikan yang cukup memadai bagi penduduk di desa tersebut, termasuk sarana pendidikan agama yaitu Pondok Pesantren Bany 'Aly yang dirintis oleh KH. Ali (alm) lalu KH. Misbahuddin (alm) putranya, sekarang dipimpin oleh KH. Andi Suhandi dan saudar-saudaranya, Pondok Pesantren Nurul Huda, Pondok Pesantren tahfidzilquran Al-muhajirin, Pondok Pesantren Ushuluddin, san masih banyak lagi yang lainnya. Dan di desa Cikadueun juga ada berbagai nama kampung, kampung Moyan, kampung Tarikolot, kampung Sobong, kampung Cikadueun hilir yaitu asal mula berada kampung Cikadueun.
Cikadueun berasal dari kata cai kakadueun, yaitu air bekas minum orang yang kebanyakan memakan buah durian, kadu bahasa sunda-nya. Air bekas pengobatan itu di buang ke kali, sungai kecil yang mengalir membelah kampung Cikadueun hingga jauh ke muara kali Cimoyan sampai ke laut Selat sunda, maka kali itu dinamakan kali cikadueun. Di samping itu, adanya peninggalan ulama berupa situs kebudayaan yang di lindungi undang-undang, yaitu makam auliya (wali, jamak) SYEKH MANSHUR Tb. Muhamad Soleh bin Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin bin Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin bin Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar bin Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa raja keenam kesultanan Banten.
Sebagaimana lazimnya struktur kepemerintahan, Cikadueun menganut sistem pedesaan, di pimpin kepala desa yang berhak mengelola asset untuk kemaslahatan, di bantu sekretaris desa dan ketua RW dan RT. Desa ini termasuk dalam wilayah kecamatan Cipeucang kabupaten Pandeglang provinsi Banten yang di deklarasikan berdirinya dan menjadi provinsi yang ke 30 negara Republik Indonesia pada tgl 4 Oktober 2000. Di cikadueun trdapat banyak tempat bersejarah salah satunya makam syekh mansyur yang terletak di cikadueun.
Makam Syekh Mansyur terletak di Kampung Cikadueun, Desa Cikadueun, Kecamatan Cimanuk. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Syekh Mansyur berkaitan dengan riwayat Sultan Haji atau Sultan Abu al Nasri Abdul al Qahar, Sultan Banten ke tujuh yang merupakan putera Sultan Ageng Tirtayasa. Masa Pemerintahan Sultan Haji yang kooperatif dengan Belanda ini dipenuhi dengan pemberontakan dan kekacauan di segala bidang, bahkan sebagian masyarakat tidak mengakuinya sebagai sultan.
Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Sultan Haji yang asli kembali ke Banten dan mendapati kenyataan Banten sedang dalam keadaan penuh huru-hara. Untuk menghindari keadaan yang lebih buruk lagi, Sultan Haji pergi ke Cimanuk, tepatnya ke daerah Cikadueun, Pandeglang. Di Cikadueun ia menyebarkan agama Islam hingga wafat disana. Ia dikenal dengan nama Haji Mansyur atau Syekh Mansyur Cikadueun. Namun cerita seperti ini dari sisi sejarah sangat lemah, dan hanya dianggap cerita rakyat atau legenda yang mengandung nilai dan makna filosofis.
Sumber lain mengatakan, Syekh Mansyur Cikadueun adalah ulama besar yang berasal dari Jawa Timur yang hidup semasa dengan Syekh Nawawi al Bantani. Kedua tokoh tersebut terlibat langsung dalam perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Syekh Mansyur dikejar oleh belanda dan akhirnya menetap di Kampung Cikadueun, Syekh Nawawi kembali lagi ke Mekkah.
Kepurbakalaan yang terdapat di komplek makam Syekh Mansyur Cikadueun ini hanyalah batu nisan pada makam Syekh Mansyur yang tipologinya menyerupai batu nisan tipe Aceh. Nisan ini memiliki bentuk dasar pipih, bagian kepala memiliki dua undakan, makin ke atas makin mengecil. Pada bagian atas badan nisan terdapat tonjolan berbentuk tanduk. Hiasan berupa sulur daun dan tanaman terdapat hampir di seluruh badan nisan tanpa ragam hias kaligrafi.
Menurut banyak cerita ada yang menarik dari makam syekh mansyur yaitu sebuah batu besar yang bertuliskan Alquran , orang menamai tempat tersebut dengan Batu quran . menurut cerita dari masyarakat tentang batu quran tersebut timbul karena Syech mansyurudin seorang ulama min auliyaillah pada waktu berada di Mekkah menyelam di sumur Zam-zam dan timbul di suatu mata air yang terdapat didaerah cibulakan banten , mata air tersebut memancur sangat deras lalu Syech Mansyurudin mengambil Alquran untuk menghentikan laju mata air yang memancur deras tersebut hingga akhirnya pancuran air tersebut dapat dihentikan dan Alquran tersebut berubah menjadi sebuah batu , lalu syech mansyurudin mengukir batu tersebut dengan jari telunjuknya.
Syekh Maulana Mansyuruddin dikenal dengan nama Sultan Haji, beliau adalah putra Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa (raja Banten ke 6). Sekitar tahun 1651 M. Beliau menikah dengan gadis dari desa Cikoromay banten bernama Nyi Mas Ratu Sarinten dan dikarunia anak bernama Muhammad sholih . Beliau merupakan salah satu ulama yang menyebarkan Islam di Banten selatan. Menurut cerita Beliau terkenal sakti dan dapat bersahabat dengan bangsa Jin . Suatu ketika Syech Mansyurudin berjalan kesebuah hutan lalu tiba tiba Beliau mendengar Aungan Harimau yang merintih kesakitan. Ketika dihampiri oleh Syech Mansyurudin Harimau tersebut tengah terjepit pada suatu pohon besar. Lalu Syech mansyurudin menolong Harimau tersebut melepaskan dari himpitan kayu , setelah dibebaskan harimau tersebut mengaung dan menunduk dihadapan Syech Mansyurudin. Dengan karomah yang beliau Miliki syech mansyurudin dapat bercakap cakap dengan harimau tersebut. Kata Syech Mansyurudin kepada harimau tersebut ‘Engkau atas izin Alloh telah aku selamatkan , maka aku minta pada engkau dan anak turunanmu untuk tidak mengganggu keluarga dan anak keturunanku” . Sang Harimau pun menyanggupinya. Hingga saat ini berkembang cerita bahwa anak keturunan syech Mansyurudin dapat menaklukan harimau . Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672M dan di makamkan di Cikaduen Pandeglang Banten. Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat
Sumber:
https://humaspdg.wordpress.com/2010/03/21/syekh-maulana-mansyuruddin-cikadueun-pandeglang/
http://sachrony.wordpress.com/2011/06/16/syech-mansyurudin-cikaduwen-banten-ulama-dan-pendekar-banten/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Muhammad sholih bin sywh mansuruddin ada anak ga?
BalasHapusMuhammad sholih bin sywh mansuruddin ada anak ga?
BalasHapusSyekh mln manshur.tidak punya anak berna muhmmad Sholih..ada juga.abu Sholih salah satu nama syekh mln mnsr.
BalasHapusSiapa ya punya Muh.Soleh bin Syeh Mansyur.terus ke bawah.
BalasHapusMaksudnya putra.bukan punya
BalasHapusMenurut cerita Buyut salih yg berjuluk Kyai Abu salih..mempunyai beberapa istri.. dan keturunan Nya dg salah satu istri yg tua ada 5 putera Dan putri,yg Saya ketahui hanya yg Nomor 1 dan 2 Yaitu Buyut Santamin Dan Ki Japar / Tubagus Gofur.. dan 2 Buyut ini jelas keturunan Nya hingga sekarang.
BalasHapusMohon Maaf dulur dgn siapa ini,?? jawaban Nya sangat membantu Saya.
Hapus