Selasa, 23 Desember 2014

Refisi Penerapan Filsafat Eksistensialisme dalam Komponen Pendidikan

A. Pengertian filsafat eksistensialisme Ekistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauan yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukan tidak mengetahui mana yang benar dan tidak bena, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relative, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya dianggap benar. Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya dalam tradisi filsafat barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan. Eksistensialisme Memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif , subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini : jean paul satre, soren kierkagaard, martin buber, martin Heidegger, karl jasper, gabril marcel, paul Tillich. B. Kajian eksistensialisme tentang ontologi : Filsafat eksistensialisme merupakan salah satu paham yang muncul dikarenakan ketidakpuasan beberapa filosof terhadap filsafat pada masa yunani hingga modern. Mulai dari materialisme, idealisme, hingga reaksi terhadap dunia pada umumnya dan khususnya Eropa Barat yang saat itu sedang mengalami perang dunia ke II. Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia, sama seperti hewan dan pohon yang ada di dunia. Namun, cara berada manusia berbeda dengan benda-benda lain. Manusia menyadari dirinya berada di dunia, mereka menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti apa yang dihadapinya berbeda dengan hewan dan benda-benda mati lainnya. Manusia mengerti guna pohon, mengerti bahwa hidup mereka memiliki arti. Munculnya eksistensialisme merupakan gerakan filosofis yang muncul di Jerman setelah perang dunia I dan berkembang di Perancis setelah perang dunia II. Kemudian munculnya eksistensialisme juga didorong oleh situasi dunia secara umum, terutama dunia Eropa barat. Pada waktu itu kondisi dunia pada umumnya tidak menentu akibat perang. Dimana-mana terjadi krisis nilai. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Manusia melupakan individualitasnya, dari sanalah para filosofberfikir dan mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut. Dari proses itulah lahir eksistensialisme. Eksistensialisme menyeruak dunia filsafat semenjak perang dunia II (sutrisno : 1987). Diantara para tokohnya adalah Heidegger, Gabriel eksistensialisme a marcel, nietsze, kieerkegaard, Sartre, jaspers, dan levinas. Dan yang dianggap bapak dalah soren kiekeergaard. C. kajian eksistensialisme tentang epistemologis filsafat eksistensialisme menegaskan bahwa individu bertanggung jawab untuk menentukan hidupnya sendiri. Dalam banyak cara yang sama, epistemologi eksistensialis mengasumsikan bahwa individu bertanggung jawab untuk pengetahuan sendiri. Pengetahuan berasal dan terdiri dari apa yang ada dalam kesadaran individu dan perasaan sebagai hasil dari pengalaman dan proyek. Situasi manusia yang terdiri dari komponen baik rasional dan irasional. Validitas pengetahuan ditentukan oleh nilai dan makna terhadap individu tertentu. Sebuah epistemologi eksistensialis muncul dari pengakuan bahwa pengalaman manusia dan pengetahuan bersifat subyektif, personal, rasional, dan irasional. seperti yang telah kita amati, tekanan yang berlebihan pada logika analitik sering menimbulkan pandangan yang mengabaikan semua mitos dalam pencarian system ilmiah. Sejauh mana filsuf-filsuf membolehkan cara pikir mitologis untuk membedah realitas berdasarkan fakta-fakta dan memainkan peran untuk mengukur sejauh mana mereka mengakui beberapa bentuk logika sinetik sebagai komplemen logika analitik yang sah. Ini berlaku dalam ajaran filsafat eksistensialisme. D. kajian eksistensialisme tentang aksiologis eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, sikun pribadi (1671) mengemukakan bahwa eksistensialisme berhubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan). Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia. Aksiologis juga berhubungan erat dengan nilai (etika dan estetika). Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih dan diambil. Etika sebagai tuntunan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti orang. Nilai keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya. Kalangan eksistensialisme “terganggu” akan apa yang mereka dapatkan pada kemapanan pendidikan. Mereka dengan segera menegaskan bahwa banyak dari apa yang disebut pendidikan yang sebenarnya tidaklah apa-apa kecuali propaganda yang digunakan untuk melihat audiens. Mereka juga mengungkapkan bahwa banyak dari apa yang dewasa ini dianggap pendidikan sejati adalah sesuatu yang membahayakan, karena ia menyimpan peserta didik untuk konsumerisme atau menjadikannya sebagai tenaga penggerak dalam mesin teknologi industrial dan biroklasi modern. Bukan malah mengembangkan individualitas dan kreativitas, keluh kalangan eksisteansialis, banyak pendidikan justru memusnahkan sifat-sifat kemanusiaan yang pokok. Eksistensialisme sangat berhubungan erat dengan pendidikan karena pusat pemkiran eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Penerapan filsafat eksistensialisme dalam komponen pendidikan antara lain : a) Tujuan pendidikan Menurut aliran eksistensialisme tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentuka kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum. Dan juga Memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif kepada para siswa dalam semua bentuk kehidupan. b) Kurikulum Eksistensialisme menyatakan bahwa Kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang memberikan kebebasan individual yang luas bagi para siswa agar mereka mampu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanaan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri. Dengan kata lain, yang diutamakan adalah kurikulum liberal, yang merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Menurut eksistensialisme, mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Menurut aliran ini, semua mata pelajaran memiliki kedudukan sama. Karena setiap anak membutuhkan mata pelajaran yang berbeda untuk membantu menemukan dirinya. Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar pada humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan ketrerampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan. c) Proses belajar mengajar Salah satu tokoh aliran eksistensialisme, martin buber berpandangan tentang “dialog”. Inilah yang menjadi pengaplikasian konsep belajar mengajar aliran ini. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya. Adapun lawan dari dialog adalah “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain sebagai objek. Dalam penerapannya, kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa untuk mengikuti kehendak guru, dimana guru menjadi penguasanya. buber juga mengemukakan, hendaknya guru jangan disamakan dengan seorang instruktur. Karena ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara subjek mater dengan siswa. Jika guru dianggap sebagai instruktur, ia akan turun martabatnya hanya sekedar alat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, dan murid akan menjadi hasil dari transfer itu. Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan produk dari pengetahuan itu. Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan guru dengan murid sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada murid, harus menjadi bagian dari pengalaman pribadinya, Sehingga guru akan berjumpa dengan anak sebagai pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru tidak lagi merupakan sesuatu yang diberikan kepada murid, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri. d) Peran guru Peran guru bagi kalangan eksistensialisme tidaklah sebagaimana peran guru dalam paham tradisional. Guru eksistensialisme bukanlah sosok yang mempunyai jawaban-jawaban benar tak terbantahkan. Ia lebih sebagai seseorang yang berkemauan membantu para subjek didik mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin. Di dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensialisme menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. Guru juga harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relaif melalui pertanyaan-pertanyan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak member instruksi. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi juga merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Dan siswa juga memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah ialah suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya. Guru hendaknya member semangat kepada murid untuk memikirkan dirinya didalam suatu dialog. Guru menanyakan tentang ide-ide yang dimiki murid, dan mengajukan ide-ide lain, dan membimbingnya untuk memilih alternative. Maka siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak terjadi kepada manusia melainkan dipilih oleh mereka sendiri. Lebih dari itu, siswa harus menjadi actor dalam suatu drama belajar bukan menjadi penonton. Daftar pustaka http://ekameliyakin.wordpress.com/2013/06/26/aliran-eksistensialisme-filsafat-pendidikan/ http://www.jaringankomputer.org/filsafat-pendidikan-dan-aliran-filsafat-pendidikan/ http://nurislamiahdassir.blogspot.com/2013/01/aliran-filsafat-eksistensialisme.html/m=1 Prof.Dr R.F BERLING. Filsafat dewasa ini. (Djakarta: dinas penerbitan balai pustaka, 1961) http://tahdits.wordpress.com/2013/01/13/pemikiran-filsafat-eksistensialisme/ http://id.m.wikipedia.org/wiki/eksistensialisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar