Selasa, 23 Desember 2014
Sejarah Kota Pandeglang
Math 3a-18
Pandeglang berkah adalah slogan dari kota pandeglang sendiri dalam percaturan sejarah kesultanan Banten telah terbukti merupakan daerah yang strategis. Hal ini bisa terlihat dari berbagai peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah Pandeglang. Semua itu bukan hanya membekas pada benda yang berwujud, tapi juga membekas pada kultur kehidupan masyarakat Pandeglang. Peninggalan sejarah kesultanan Banten masih nampak terlihat dari seni budaya yang ada di Pandeglang. contohnya, Pandeglang merupakan Kota Santri dan Pandeglang terkenal dengan daerah yang historis, patriotis dan agamis. Julukan ini tidak serta merta timbul dengan sendirinya, akan tetapi merupakan bentangan sejarah telah mencatatnya. Saat ini Pandeglang tetap merupakan wilayah yang strategis di wilayah Provinsi Banten. Sejarah kembali mencatat, Pandeglang dengan tokoh-tokoh masyarakatnya memberi andil besar dalam pembentukan Provinsi Banten. Sejarah Pandeglang mencatat juga, bahwa saat dipimpin oleh Bupati H. A. Dimyati Natakkusumah, Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta di Kabupaten Pandeglang Bebas Biaya Sekolah dan pada tahun 2007 pembangunan sarana pendidikan dibangun dengan menggunakan rangka baja. Kembali kepada sejarah terbentuknya Kabupaten Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874, tanah-tanah gubernur kecuali Bativia dan Keresidenan Priangan telah Banten telah ditentukan, bahwa:
a. Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer, Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan.
b. Bupati mempunyai pembantu, yaitu mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden.
c. Kepala Distrik mempunyai gelar jabatan wedana dan Onder Distrik mempunyai jabatan Asisten Wedana.
Berdasarkan Staatsblad 1874 NO. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874 mulai berlaku 1 April
1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik
atau kewedanaan. Pembagian ini menjadi Kewedanaan Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet,
Cimanuk, Caringin, Panimbang, Menes dan Cibaliung.
Menurut data tersebut di atas, Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877 Nomor 224 tentang batas-batas keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupten Pandeglang dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 nomor XI. Maka jelas Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri tidak di bawah penguaasaan Keresidenan Banten.
Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diambil beberapa alternatif, yaitu pada tahun 1828
Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan distrik. Pada tahun 1874 Pandeglang
merupakan kabupaten. Pada tahun 1882 Pandeglang merupakan kabupaten dan distrik kewedanaan. Dan pada tahun 1925 kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri. Atas dasar
kesimpulan-kesimpulan tersebut di atas, maka disepakati bersama bahwa tanggal 1 April
1874 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang. Adapun kepemimpinan dikota pandeglang sebagai berikut :
Nama-nama Bupati Caringin/Menes masa jabatan 1827-2907, yaitu R.T. Mandoera Radja
Djajanegara (1827-1840), R.T. Wiradidjaja (1840-1849), R.T.Koesoemanegara (1849-1849),
R.T.Aria Adipati Soerjanegara (1849-1872), R.T. Dajanegara (1872-1883), R.T. Adipati
Koesoemadiningrat (1883-1896), R.T. Soera Adiningrat (1896-1898) dan R. Soeria (1898-
1908). Sedangkan nama-nama Bupati Pandeglang masa jabatan dari tahun 1848 yaitu R.T. Aria
Tjoncronegoro (1848-1849), R.T.Aria Natadiningrat (1849-1870), R.T. Pandji Gondokoesoemo
I (1870-1870), R.T.Soetadindingrat (1870-1888), R.T.Abdul Gafoer Soerawinangoen (1888-
1898), R.T.Soera Adiningrat (1898-1910), R.T. Mas Kanta Astrawijaya (1910-1914), R.T.
Adipati Hasan Kartadiningrat (1914-1927), Rd. Aria Adipati Wiriaatmadja (1927-1927), Rd.
Aria Adipati Soerja Djajanegara (1927-1941). Selanjutnya, nama-nama Bupati Pandeglang pada era kemerdekaan, yaitu R.T. Mr. Djoemhana Wiraatmadja (1941-1945), K.H. Tb. Abdoelhalim (1945-1947), Mas Soedibjadjaja (1947-1948), Mas Djaja Rukmantara (1948-1949), Rd. Hola Sukmadiningrat (1949-1956) Rd.
Moch. Noch Kartanegara (1956-1957), Rd. Lamri Suriaatmadja (1957-1957), Rd. Muhdas
Suria Haminata (1957-1958), Rd. Harun (1958-1959), M. Ebby (1959-1961), Rd. Moch.
Sjahra Sastrakusuma (1961-1964), Rd. Akil Achjar Mansjur (1964-1964), Rd. Syamsudin
Natadisastra (1964-1968), Drs. Rd. Machfud (1968-1968), Drs. Karna Suwanda (1968-1973),
Drs. H. Karna Suwanda (1973-1975), Drs. H. Karna Suwanda (1975-1980), Drs. Suyaman
(1980-1985), Drs. H. Suyaman (1985-1990), H.M Zein, BA (1990-1995) Drs. H. Yitno (1995-
2000), H.A. Dimyati Natakusumah, SH, MH (2000-2009) dan Drs. H. Erwan Kurtubi, MM (28
Oktober 2009 s/d sekarang) Sedangkan Drs. H. Erwan Kurtubi, MM memangku jabatan Bupati Pandeglang dimulai pada 28 Oktober 2009 s/d saat ini yang sebelumnya mendapat kepercayaan dari masyarakat melalui pemilihan langsung pertama kali dalam sejarah perpolitikan di Pandeglang sebagai wakil bupati pandeglang pada periode 2005-2009. Beliau merupakan Bupati yang ke 34 secara urutan periode, sedangkan secara berurutan nama merupakan Bupati Pandeglang yang ke 30. Hal ini disebabkan ada beberapa orang bupati yang menjabat lebih dari satu periode kepemimpinan.
a) Cerita mengenai asal usul nama di daerah pandeglang
Di zaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang bernama Putri Arum adalah seorang putri yang cantik jelita selain itu dia juga memiliki budi pekerti yang baik. Kecantikan putri Arum telah memikat hati pangeran Cunihin. Namun sayangnya pangeran Cunihin adalah seorang pangeran yang sombong. Putri Arum tidak menyukai pangeran Cunihin. Walaupun begitu putri Arum tidak bisa menolak pinangan pangeran, dia takut jika menolak sang pangeran akan marah dan merusak segalanya. Putri Arum menjadi amat sedih dan bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Pada suatu hari di tengah sebidang kebun manggis, seorang putri yang cantik jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat menandakan dia sedang bermuram durja. Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran. Arum berjumpa dengan ki Pande. Kemudian putri Arum menceritakan kegelisahan hatinya pada Ki Pande. Ki Pande adalah seorang pembuat gelang yang hidup di kampung tersebut. Bersama ki Pande, putri Arum mengatur rencana agar dapat membatalkan pertunangannya dengan pangeran Cunihin. Setelah beberapa hari pangeran Cunihin datang menemui putri Arum dan memintanya untuk menerima pinangannya. Putri Arum mengajukan syarat yaitu pangeran Cunihin harus dapat melubangi batu yang besar. Putri Arum ingin melihat keindahan laut melalui lubang batu tersebut. Mendengar permintaan itu pangeran Cunihin tertawa dan dengan sombongnya dia menyanggupi syarat yang diajukan putri Arum.
Waktu yang diberikan putri Arum untuk membuat lubang batu adalah tiga hari. Namun sebelum waktunya tiba ternyata pangeran Cunihin sudah selesai membuat lubang yang sangat besar di sebuah batu. Melihat hal ini putri Arum menjadi gentar dan takut jika akhirnya nanti harus menerima pertunangan tersebut. Setelah lubang batu selesai, pangeran Cunihin mendatangi putri Arum dan menagih janjinya. Putri Arum berpura-pura senang dan mendatangi lubang batu itu, di hadapan pangeran Cunihin, putri Arum berbohong. Putri Arum mengatakan bahwa dia tidak dapat melihat lubang batu yang telah dibuat pangeran Cunihin. Pangerang Cunihin menjadi bingung dan mencoba untuk masuk ke dalam lubang batu tersebut. Saat itulah keajaiban terjadi, dengan perlahan kekuatan pangeran Cunihin melemah, dia kemudian berubah menjadi seorang lelaki tua dan kekuatannya menghilang. Putri Arum menjadi terkejut dan secara tidak sadar dia mendekati ki Pande. Berubahnya pangeran Cunihin menjadi tua ternyata berbalik kepada ki Pande. Sebelumnya ki Pande adalah seorang lelaki tua namun kemudian berubah menjadi pangeran yang gagah dan tampan. Putri Arum yang melihat hal ini menjadi terkejut, kemudian ki Pande menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya pangeran Cunihin dan ki Pande adalah saudara seperguruan, namun pangeran Cunihin adalah orang yang sombong. Pangeran Cunihin juga telah mencuri ilmu kesaktian ki Pande dan merubahnya menjadi lelaki tua. Ki Pande dapat berubah menjadi semula jika pangeran Cunihin masuk ke dalam lubang batu yang di lapisi gelang buatan ki Pande. Kini ki Pande telah selamat dan dia berterima kasih kepada putri Arum yang telah membantunya. Akhirnya ki Pande di panggil dengan sebutan Pande Gelang dan menikah dengan PutriArum.Mereka hidup damai dan tinggal di daerah Banten. Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan kampung Kramatwatu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan pasir berarti bukit.
b) Tempat-tempat wisata di pandeglang
1. Taman nasional ujung kulon
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten , serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan. Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820. Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata)dan berbagai macam jenis anggrek. Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpines javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas). Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain.
2. Tamanjaya dan cibiuk
Pintu masuk utama dengan fasilitas, pusat informasi, wisma tamu, dermaga, sumber air panas.
3. Pantai kalejetan ranjang, cibandawoh
Fenomena gelombang laut selatan dan pantai berpasir tebal, pengamatan tumbuhan dan satwa.
4. Pulau peucang
Pantai pasir putih, terumbu karang, perairan laut yang biru jernih yang sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, snorkeling dan tempat ideal bagi pengamatan satwa satwa rusa di habitat alamnya.
5. Karang Copong, Citerjun, Cidaon, Ciujungkulon, Cibunar, Tanjung Layar, dan Ciramea.
Menjelajahi hutan, menyelusuri sungai, padang pengembalaan satwa, air terjun dan tempat peneluran penyu.
6. Pulau Handeuleum, Cigenter, Cihandeuleum.
Pengamatan satwa (banteng, babi hutan, rusa, jejak-jejak badak Jawa dan berbagai macam jenis burung), menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove.
7. Pulau Panaitan, dan Gunung Raksa
Menyelam, berselancar, dan wisata budaya/ sejarah.
Sumber :
• http://legendabanten.blogspot.com/2013/03/asal-usul-nama-pandeglang.html
• http://kekunaan.blogspot.com/2012/10/asal-usul-pandeglang.html
• Sekar Septiandari, 2010, Seri Cerita Rakyat Banten, Tangerang: KARISMA Publishing Group
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar