Refisi Penerapan Filsafat Eksistensialisme dalam Komponen Pendidikan
Sejarah Kota Pandeglang
Cerita Sejarah Mengenai Daerah Caringin
Sejarah Hidup Ronggowarsito
Penerapan Filsafat Eksistensialisme dalam Komponen Pendidikan
Tugas Orasi
Kehidupan Masyarakat Baduy
Sejarah Makam Syekh Mansyur Cikadueun
Misteri Segitiga Bermuda
Pertanyaan Filsafat
Matematika
Power Point
Nirta Aldi
Selasa, 06 Januari 2015
Selasa, 23 Desember 2014
Refisi Penerapan Filsafat Eksistensialisme dalam Komponen Pendidikan
A. Pengertian filsafat eksistensialisme
Ekistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauan yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukan tidak mengetahui mana yang benar dan tidak bena, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relative, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya dianggap benar. Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya dalam tradisi filsafat barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan.
Eksistensialisme Memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif , subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini : jean paul satre, soren kierkagaard, martin buber, martin Heidegger, karl jasper, gabril marcel, paul Tillich.
B. Kajian eksistensialisme tentang ontologi :
Filsafat eksistensialisme merupakan salah satu paham yang muncul dikarenakan ketidakpuasan beberapa filosof terhadap filsafat pada masa yunani hingga modern. Mulai dari materialisme, idealisme, hingga reaksi terhadap dunia pada umumnya dan khususnya Eropa Barat yang saat itu sedang mengalami perang dunia ke II. Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia, sama seperti hewan dan pohon yang ada di dunia. Namun, cara berada manusia berbeda dengan benda-benda lain. Manusia menyadari dirinya berada di dunia, mereka menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti apa yang dihadapinya berbeda dengan hewan dan benda-benda mati lainnya. Manusia mengerti guna pohon, mengerti bahwa hidup mereka memiliki arti.
Munculnya eksistensialisme merupakan gerakan filosofis yang muncul di Jerman setelah perang dunia I dan berkembang di Perancis setelah perang dunia II. Kemudian munculnya eksistensialisme juga didorong oleh situasi dunia secara umum, terutama dunia Eropa barat. Pada waktu itu kondisi dunia pada umumnya tidak menentu akibat perang. Dimana-mana terjadi krisis nilai. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Manusia melupakan individualitasnya, dari sanalah para filosofberfikir dan mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut. Dari proses itulah lahir eksistensialisme.
Eksistensialisme menyeruak dunia filsafat semenjak perang dunia II (sutrisno : 1987). Diantara para tokohnya adalah Heidegger, Gabriel eksistensialisme a marcel, nietsze, kieerkegaard, Sartre, jaspers, dan levinas. Dan yang dianggap bapak dalah soren kiekeergaard.
C. kajian eksistensialisme tentang epistemologis
filsafat eksistensialisme menegaskan bahwa individu bertanggung jawab untuk menentukan hidupnya sendiri. Dalam banyak cara yang sama, epistemologi eksistensialis mengasumsikan bahwa individu bertanggung jawab untuk pengetahuan sendiri. Pengetahuan berasal dan terdiri dari apa yang ada dalam kesadaran individu dan perasaan sebagai hasil dari pengalaman dan proyek. Situasi manusia yang terdiri dari komponen baik rasional dan irasional. Validitas pengetahuan ditentukan oleh nilai dan makna terhadap individu tertentu. Sebuah epistemologi eksistensialis muncul dari pengakuan bahwa pengalaman manusia dan pengetahuan bersifat subyektif, personal, rasional, dan irasional.
seperti yang telah kita amati, tekanan yang berlebihan pada logika analitik sering menimbulkan pandangan yang mengabaikan semua mitos dalam pencarian system ilmiah. Sejauh mana filsuf-filsuf membolehkan cara pikir mitologis untuk membedah realitas berdasarkan fakta-fakta dan memainkan peran untuk mengukur sejauh mana mereka mengakui beberapa bentuk logika sinetik sebagai komplemen logika analitik yang sah. Ini berlaku dalam ajaran filsafat eksistensialisme.
D. kajian eksistensialisme tentang aksiologis
eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, sikun pribadi (1671) mengemukakan bahwa eksistensialisme berhubungan sangat erat dengan pendidikan karena keduanya bersinggungan satu sama lain pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan). Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia.
Aksiologis juga berhubungan erat dengan nilai (etika dan estetika). Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih dan diambil. Etika sebagai tuntunan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti orang. Nilai keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya.
Kalangan eksistensialisme “terganggu” akan apa yang mereka dapatkan pada kemapanan pendidikan. Mereka dengan segera menegaskan bahwa banyak dari apa yang disebut pendidikan yang sebenarnya tidaklah apa-apa kecuali propaganda yang digunakan untuk melihat audiens. Mereka juga mengungkapkan bahwa banyak dari apa yang dewasa ini dianggap pendidikan sejati adalah sesuatu yang membahayakan, karena ia menyimpan peserta didik untuk konsumerisme atau menjadikannya sebagai tenaga penggerak dalam mesin teknologi industrial dan biroklasi modern. Bukan malah mengembangkan individualitas dan kreativitas, keluh kalangan eksisteansialis, banyak pendidikan justru memusnahkan sifat-sifat kemanusiaan yang pokok. Eksistensialisme sangat berhubungan erat dengan pendidikan karena pusat pemkiran eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Penerapan filsafat eksistensialisme dalam komponen pendidikan antara lain :
a) Tujuan pendidikan
Menurut aliran eksistensialisme tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentuka kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum. Dan juga Memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif kepada para siswa dalam semua bentuk kehidupan.
b) Kurikulum
Eksistensialisme menyatakan bahwa Kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang memberikan kebebasan individual yang luas bagi para siswa agar mereka mampu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanaan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri. Dengan kata lain, yang diutamakan adalah kurikulum liberal, yang merupakan landasan bagi kebebasan manusia.
Menurut eksistensialisme, mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Menurut aliran ini, semua mata pelajaran memiliki kedudukan sama. Karena setiap anak membutuhkan mata pelajaran yang berbeda untuk membantu menemukan dirinya.
Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar pada humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan ketrerampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan.
c) Proses belajar mengajar
Salah satu tokoh aliran eksistensialisme, martin buber berpandangan tentang “dialog”. Inilah yang menjadi pengaplikasian konsep belajar mengajar aliran ini. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya. Adapun lawan dari dialog adalah “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain sebagai objek. Dalam penerapannya, kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa untuk mengikuti kehendak guru, dimana guru menjadi penguasanya.
buber juga mengemukakan, hendaknya guru jangan disamakan dengan seorang instruktur. Karena ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara subjek mater dengan siswa. Jika guru dianggap sebagai instruktur, ia akan turun martabatnya hanya sekedar alat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, dan murid akan menjadi hasil dari transfer itu. Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan produk dari pengetahuan itu.
Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan guru dengan murid sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada murid, harus menjadi bagian dari pengalaman pribadinya, Sehingga guru akan berjumpa dengan anak sebagai pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru tidak lagi merupakan sesuatu yang diberikan kepada murid, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.
d) Peran guru
Peran guru bagi kalangan eksistensialisme tidaklah sebagaimana peran guru dalam paham tradisional. Guru eksistensialisme bukanlah sosok yang mempunyai jawaban-jawaban benar tak terbantahkan. Ia lebih sebagai seseorang yang berkemauan membantu para subjek didik mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin. Di dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensialisme menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar.
Guru juga harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relaif melalui pertanyaan-pertanyan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak member instruksi. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi juga merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Dan siswa juga memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah ialah suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.
Guru hendaknya member semangat kepada murid untuk memikirkan dirinya didalam suatu dialog. Guru menanyakan tentang ide-ide yang dimiki murid, dan mengajukan ide-ide lain, dan membimbingnya untuk memilih alternative. Maka siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak terjadi kepada manusia melainkan dipilih oleh mereka sendiri. Lebih dari itu, siswa harus menjadi actor dalam suatu drama belajar bukan menjadi penonton.
Daftar pustaka
http://ekameliyakin.wordpress.com/2013/06/26/aliran-eksistensialisme-filsafat-pendidikan/
http://www.jaringankomputer.org/filsafat-pendidikan-dan-aliran-filsafat-pendidikan/
http://nurislamiahdassir.blogspot.com/2013/01/aliran-filsafat-eksistensialisme.html/m=1
Prof.Dr R.F BERLING. Filsafat dewasa ini. (Djakarta: dinas penerbitan balai pustaka, 1961)
http://tahdits.wordpress.com/2013/01/13/pemikiran-filsafat-eksistensialisme/
http://id.m.wikipedia.org/wiki/eksistensialisme
Sejarah Kota Pandeglang
Math 3a-18
Pandeglang berkah adalah slogan dari kota pandeglang sendiri dalam percaturan sejarah kesultanan Banten telah terbukti merupakan daerah yang strategis. Hal ini bisa terlihat dari berbagai peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah Pandeglang. Semua itu bukan hanya membekas pada benda yang berwujud, tapi juga membekas pada kultur kehidupan masyarakat Pandeglang. Peninggalan sejarah kesultanan Banten masih nampak terlihat dari seni budaya yang ada di Pandeglang. contohnya, Pandeglang merupakan Kota Santri dan Pandeglang terkenal dengan daerah yang historis, patriotis dan agamis. Julukan ini tidak serta merta timbul dengan sendirinya, akan tetapi merupakan bentangan sejarah telah mencatatnya. Saat ini Pandeglang tetap merupakan wilayah yang strategis di wilayah Provinsi Banten. Sejarah kembali mencatat, Pandeglang dengan tokoh-tokoh masyarakatnya memberi andil besar dalam pembentukan Provinsi Banten. Sejarah Pandeglang mencatat juga, bahwa saat dipimpin oleh Bupati H. A. Dimyati Natakkusumah, Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta di Kabupaten Pandeglang Bebas Biaya Sekolah dan pada tahun 2007 pembangunan sarana pendidikan dibangun dengan menggunakan rangka baja. Kembali kepada sejarah terbentuknya Kabupaten Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874, tanah-tanah gubernur kecuali Bativia dan Keresidenan Priangan telah Banten telah ditentukan, bahwa:
a. Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer, Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan.
b. Bupati mempunyai pembantu, yaitu mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden.
c. Kepala Distrik mempunyai gelar jabatan wedana dan Onder Distrik mempunyai jabatan Asisten Wedana.
Berdasarkan Staatsblad 1874 NO. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874 mulai berlaku 1 April
1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik
atau kewedanaan. Pembagian ini menjadi Kewedanaan Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet,
Cimanuk, Caringin, Panimbang, Menes dan Cibaliung.
Menurut data tersebut di atas, Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877 Nomor 224 tentang batas-batas keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupten Pandeglang dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 nomor XI. Maka jelas Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri tidak di bawah penguaasaan Keresidenan Banten.
Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diambil beberapa alternatif, yaitu pada tahun 1828
Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan distrik. Pada tahun 1874 Pandeglang
merupakan kabupaten. Pada tahun 1882 Pandeglang merupakan kabupaten dan distrik kewedanaan. Dan pada tahun 1925 kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri. Atas dasar
kesimpulan-kesimpulan tersebut di atas, maka disepakati bersama bahwa tanggal 1 April
1874 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang. Adapun kepemimpinan dikota pandeglang sebagai berikut :
Nama-nama Bupati Caringin/Menes masa jabatan 1827-2907, yaitu R.T. Mandoera Radja
Djajanegara (1827-1840), R.T. Wiradidjaja (1840-1849), R.T.Koesoemanegara (1849-1849),
R.T.Aria Adipati Soerjanegara (1849-1872), R.T. Dajanegara (1872-1883), R.T. Adipati
Koesoemadiningrat (1883-1896), R.T. Soera Adiningrat (1896-1898) dan R. Soeria (1898-
1908). Sedangkan nama-nama Bupati Pandeglang masa jabatan dari tahun 1848 yaitu R.T. Aria
Tjoncronegoro (1848-1849), R.T.Aria Natadiningrat (1849-1870), R.T. Pandji Gondokoesoemo
I (1870-1870), R.T.Soetadindingrat (1870-1888), R.T.Abdul Gafoer Soerawinangoen (1888-
1898), R.T.Soera Adiningrat (1898-1910), R.T. Mas Kanta Astrawijaya (1910-1914), R.T.
Adipati Hasan Kartadiningrat (1914-1927), Rd. Aria Adipati Wiriaatmadja (1927-1927), Rd.
Aria Adipati Soerja Djajanegara (1927-1941). Selanjutnya, nama-nama Bupati Pandeglang pada era kemerdekaan, yaitu R.T. Mr. Djoemhana Wiraatmadja (1941-1945), K.H. Tb. Abdoelhalim (1945-1947), Mas Soedibjadjaja (1947-1948), Mas Djaja Rukmantara (1948-1949), Rd. Hola Sukmadiningrat (1949-1956) Rd.
Moch. Noch Kartanegara (1956-1957), Rd. Lamri Suriaatmadja (1957-1957), Rd. Muhdas
Suria Haminata (1957-1958), Rd. Harun (1958-1959), M. Ebby (1959-1961), Rd. Moch.
Sjahra Sastrakusuma (1961-1964), Rd. Akil Achjar Mansjur (1964-1964), Rd. Syamsudin
Natadisastra (1964-1968), Drs. Rd. Machfud (1968-1968), Drs. Karna Suwanda (1968-1973),
Drs. H. Karna Suwanda (1973-1975), Drs. H. Karna Suwanda (1975-1980), Drs. Suyaman
(1980-1985), Drs. H. Suyaman (1985-1990), H.M Zein, BA (1990-1995) Drs. H. Yitno (1995-
2000), H.A. Dimyati Natakusumah, SH, MH (2000-2009) dan Drs. H. Erwan Kurtubi, MM (28
Oktober 2009 s/d sekarang) Sedangkan Drs. H. Erwan Kurtubi, MM memangku jabatan Bupati Pandeglang dimulai pada 28 Oktober 2009 s/d saat ini yang sebelumnya mendapat kepercayaan dari masyarakat melalui pemilihan langsung pertama kali dalam sejarah perpolitikan di Pandeglang sebagai wakil bupati pandeglang pada periode 2005-2009. Beliau merupakan Bupati yang ke 34 secara urutan periode, sedangkan secara berurutan nama merupakan Bupati Pandeglang yang ke 30. Hal ini disebabkan ada beberapa orang bupati yang menjabat lebih dari satu periode kepemimpinan.
a) Cerita mengenai asal usul nama di daerah pandeglang
Di zaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang bernama Putri Arum adalah seorang putri yang cantik jelita selain itu dia juga memiliki budi pekerti yang baik. Kecantikan putri Arum telah memikat hati pangeran Cunihin. Namun sayangnya pangeran Cunihin adalah seorang pangeran yang sombong. Putri Arum tidak menyukai pangeran Cunihin. Walaupun begitu putri Arum tidak bisa menolak pinangan pangeran, dia takut jika menolak sang pangeran akan marah dan merusak segalanya. Putri Arum menjadi amat sedih dan bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Pada suatu hari di tengah sebidang kebun manggis, seorang putri yang cantik jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat menandakan dia sedang bermuram durja. Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran. Arum berjumpa dengan ki Pande. Kemudian putri Arum menceritakan kegelisahan hatinya pada Ki Pande. Ki Pande adalah seorang pembuat gelang yang hidup di kampung tersebut. Bersama ki Pande, putri Arum mengatur rencana agar dapat membatalkan pertunangannya dengan pangeran Cunihin. Setelah beberapa hari pangeran Cunihin datang menemui putri Arum dan memintanya untuk menerima pinangannya. Putri Arum mengajukan syarat yaitu pangeran Cunihin harus dapat melubangi batu yang besar. Putri Arum ingin melihat keindahan laut melalui lubang batu tersebut. Mendengar permintaan itu pangeran Cunihin tertawa dan dengan sombongnya dia menyanggupi syarat yang diajukan putri Arum.
Waktu yang diberikan putri Arum untuk membuat lubang batu adalah tiga hari. Namun sebelum waktunya tiba ternyata pangeran Cunihin sudah selesai membuat lubang yang sangat besar di sebuah batu. Melihat hal ini putri Arum menjadi gentar dan takut jika akhirnya nanti harus menerima pertunangan tersebut. Setelah lubang batu selesai, pangeran Cunihin mendatangi putri Arum dan menagih janjinya. Putri Arum berpura-pura senang dan mendatangi lubang batu itu, di hadapan pangeran Cunihin, putri Arum berbohong. Putri Arum mengatakan bahwa dia tidak dapat melihat lubang batu yang telah dibuat pangeran Cunihin. Pangerang Cunihin menjadi bingung dan mencoba untuk masuk ke dalam lubang batu tersebut. Saat itulah keajaiban terjadi, dengan perlahan kekuatan pangeran Cunihin melemah, dia kemudian berubah menjadi seorang lelaki tua dan kekuatannya menghilang. Putri Arum menjadi terkejut dan secara tidak sadar dia mendekati ki Pande. Berubahnya pangeran Cunihin menjadi tua ternyata berbalik kepada ki Pande. Sebelumnya ki Pande adalah seorang lelaki tua namun kemudian berubah menjadi pangeran yang gagah dan tampan. Putri Arum yang melihat hal ini menjadi terkejut, kemudian ki Pande menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya pangeran Cunihin dan ki Pande adalah saudara seperguruan, namun pangeran Cunihin adalah orang yang sombong. Pangeran Cunihin juga telah mencuri ilmu kesaktian ki Pande dan merubahnya menjadi lelaki tua. Ki Pande dapat berubah menjadi semula jika pangeran Cunihin masuk ke dalam lubang batu yang di lapisi gelang buatan ki Pande. Kini ki Pande telah selamat dan dia berterima kasih kepada putri Arum yang telah membantunya. Akhirnya ki Pande di panggil dengan sebutan Pande Gelang dan menikah dengan PutriArum.Mereka hidup damai dan tinggal di daerah Banten. Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan kampung Kramatwatu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan pasir berarti bukit.
b) Tempat-tempat wisata di pandeglang
1. Taman nasional ujung kulon
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten , serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan. Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820. Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata)dan berbagai macam jenis anggrek. Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpines javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas). Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain.
2. Tamanjaya dan cibiuk
Pintu masuk utama dengan fasilitas, pusat informasi, wisma tamu, dermaga, sumber air panas.
3. Pantai kalejetan ranjang, cibandawoh
Fenomena gelombang laut selatan dan pantai berpasir tebal, pengamatan tumbuhan dan satwa.
4. Pulau peucang
Pantai pasir putih, terumbu karang, perairan laut yang biru jernih yang sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, snorkeling dan tempat ideal bagi pengamatan satwa satwa rusa di habitat alamnya.
5. Karang Copong, Citerjun, Cidaon, Ciujungkulon, Cibunar, Tanjung Layar, dan Ciramea.
Menjelajahi hutan, menyelusuri sungai, padang pengembalaan satwa, air terjun dan tempat peneluran penyu.
6. Pulau Handeuleum, Cigenter, Cihandeuleum.
Pengamatan satwa (banteng, babi hutan, rusa, jejak-jejak badak Jawa dan berbagai macam jenis burung), menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove.
7. Pulau Panaitan, dan Gunung Raksa
Menyelam, berselancar, dan wisata budaya/ sejarah.
Sumber :
• http://legendabanten.blogspot.com/2013/03/asal-usul-nama-pandeglang.html
• http://kekunaan.blogspot.com/2012/10/asal-usul-pandeglang.html
• Sekar Septiandari, 2010, Seri Cerita Rakyat Banten, Tangerang: KARISMA Publishing Group
Cerita Sejarah Mengenai Daerah Caringin
MATH 3A-18
Seperti kita ketahui bersama bersama bahwa pada tahun 1883 pernah terjadi letusan gunung Krakatau yang menghancurkan Caringin. Waktu itu Caringin merupakan ibu kota Kabupaten Banten Barat. Setelah Caringin luluh lantak pusat ibu kota dipindah ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang dan di caringin terdapat perziarahan makam KH Muhammad asnawi (syech asnawi bin abdul rahman) yang wafat pada tahun 1356 H (1937 M) yang terletak di tepi pantai, desa caringin keamatan Labuan kabupaten pandeglang.
Caringin kini hanya sebuah desa, meski sejak itu Caringin terdegradasi menjadi desa, bagi perjalanan sejarah Banten, walau bagaimanapun juga Caringin tetaplah daerah penting akan mengingat sejarah perjuangannya yang dipimpin oleh K.H. Syekh Asnawi sewaktu masih hidup.
Menurut Ustadz Syaukattudin Inayah, sebut saja beliau adalah salah seorang Tokoh Caringin, atau bisa dikatakan Sesepuh Caringin. Kata Caringin berasal dari pohon besar yaitu pohon beringin yang memiliki makna yakni "Pohon Rindang Tempat Berteduh". Dimana pohon itu menjadi symbol bagi masyarakat Desa Caringin.
Mengikuti perkembangan pembagunan Caringin mulai ramai kembali dan pada tahun 2006 terbentuklan Kabupaten Caringin. Pada tahun 2006 Kabupaten Caringin adalah salah satu calon wilayah otonom di Provinsi Banten. Wilayah ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Pandeglang. Rencana ini berawal dari keinginan warga di wilayah Barat Kabupaten Pandeglang untuk mensejahterakan masyarakat.
Pada 14 Desember 2006, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pandeglang menyetujui terbentuknya Kabupaten Caringin & Kabupaten Cibaliung. Calon kabupaten otonom ini terdiri atas 7 kecamatan, yakni Kecamatan Labuan, Kecamatan Carita, Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Jiput, Kecamatan Cikedal, dan Kecamatan Sukaresmi. Wilayah ini berpenduduk sekitar 208.138 jiwa.
Diperjalanan proses peresmian dilakukan pengkajian dan disimpulkan jika Kabupaten Cibaliung dan Caringin mendapat persetujuan maka kemungkinan hal tersebut akan mematikan Kabupaten Induk-nya. Maka sesuai Undang-undang pemekaran wilayah tersebut tidak di perbolehkan mematikan daerah Induknya. Menurut beberapa pakar otonomi mungkin yang dapat dilakukan adalah dengan hanya menyetujui salah satu daerah pemekaran saja diantara dua wilayah yang akan di mekarkan tersebut dan yang disetujui hanya Kabupaten Caringin.
SUMBER :
http://caringinmuara.blogspot.com/2011/04/sejarah-caringin-dan-pandeglang.html
http://syekh-asnawi.blogspot.com/2010/05/caringin-banten.html
Sejarah Hidup Ronggowarsito
Math 3a-18
R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Dan Kakeknya yang bernama R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.
Sebagai putra bangsawan Burham mempunyai seorang emban bernama Ki Tanujoyo sebagai guru mistiknya. Di masa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya. Ronggowarsito memulai karirnya sebagai sastrawan dengan menulis Serat Jayengbaya ketika masih menjadi mantri carik di Kadipaten Anom dengan sebutan M. Ng. Sorotoko. Dalam serat ini dia berhasil menampilkan tokoh seorang pengangguran bernama Jayengboyo yang konyol dan lincah bermain-main dengan khayalannya tentang pekerjaan. Sebagai seorang intelektual, Ronggowarsito menulis banyak hal tentang sisi kehidupan. Pemikirannya tentang dunia tasawuf tertuang diantaranya dalam Serat Wirid Hidayatjati, pengamatan sosialnya termuat dalam Serat Kalatidha, dan kelebihan beliau dalam dunia ramalan terdapat dalam Serat Jaka Lodhang, bahkan pada Serat Sabda Jati terdapat sebuah ramalan tentang saat kematiannya sendiri.
Pertama mengabdi pada keraton Surakarta Hadiningrat dengan pangkat Jajar. Pangkat ini meembuatnya menyandang nama Mas Panjangswara adalah putra sulung Raden Mas Tumenggung Sastranegara, pujangga kraton Surakarta.. Semasa kecil beliau diasuh oleh abdi yang amat kasih bernama Ki Tanudjaja. Hubungan dan pergaulan keduanya membuat Ranggawaraita memiliki jiwa cinta kasih dengan orang-orang kecil (wong cilik). Ki Tanudjaja mempengaruhi kepribadian Ranggawarsita dalam penghargaannya kepada wong cilik dan berkemampuan terbatas. Karena pergaulan itu, maka dikemudian hari, watak Bagus Burham berkembang menjadi semakin bijaksana.
Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan tidak maju-maju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak, Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Ngali, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.
Selama menunggu kehadiran Adipati Cakraningrat itu, Bagus Burham dan Ki Tanudjaja berjualan 'klitikan' (barang bekas yang bermacam-macam yang mungkin masih bisa digunakan). Di pasar inilah Bagus Burham berjumpa dengan Raden kanjeng Gombak, putri Adipati Cakraningrat, yang kelak menjadi isterinya.
Kemudian Burham dan Ki Tanudjaja meninggalkan Madiun. Kyai Imam Besari melaporkan peristiwa kepergian Bagus Burham dan Ki Tanudjaja kepada ayahanda serta neneknya di Solo/Surakarta. Raden Tumenggung Sastranegara memahami perihal itu, dan meminta kepada Kyai Imam Besari untuk ikut serta mencarinya. Selanjutnya Ki Jasana dan Ki Kramaleya diperintahkan mencarinya. Kedua utusan itu akhirnya berhasil menemukan Burham dan Ki Tanudjaja, lalu diajaknyalah mereka kembali ke Pondok Gebang Tinatar, untuk melanjutkan berguru kepada Kyai Imam Besari.
Ketika kembali ke Pondok kenakalan Bagus Burham tidak mereda, Karena kejengkelannya maka Kyai Imam Besari memarahi Bagus Burham. Akhirnya Bagus Burham menyesali perbuatannya dan sungguh-sungguh menyesal atas tindakannya yang kurang baik itu. Melalui proses kesadaran dan penghayatan terhadap kenyataan hidupnya itu, Bagus Burham menyadari perbuatannya dan menyesalkan hal itu. Dengan kesadarannya, ia lalu berusaha keras untuk menebus ketinggalannya dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya, ia juga berusaha untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, yang pada akhirnya justru mendorongnya untuk mengejar ketinggalan dalam belajar. Dengan demikian muncul kesadaran baru untuk berbuat baik dan luhur, sesuai dengan kemampuannya.
Sejak saat itu, Bagus Burham belajar dengan lancar dan cepat, sehingga Kyai Imam Besari dan teman-teman Bagus Burham menjadi heran atas kemajuan Bagus Burham itu. Dalam waktu singkat, Bagus Burham mampu melebihi kawan-kawannya. Setelah di Pondok Gebang Tinatar dirasa cukup, lalu kembali ke Surakarta, dan dididik oleh neneknya sendiri, yaitu Raden Tumenggung Sastranegara. Neneknya mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang amat berguna baginya. Setelah dikhitan pada tanggal 21 Mei l8l5 Masehi, Bagus Burham diserahkan kepada Gusti Panembahan Buminata, untuk mempelajari bidang Jaya-kawijayan (kepandajan untuk menolak suatu perbuatan jahat atau membuat diri seseorang merniliki suatu kemampuan yang melebihi orang kebanyakan), kecerdas-an dan kemampuan jiwani.Setelah tamat berguru, Bagus Burham dipanggil oleh Sri Paduka PB.IV dan dianugerahi restu, yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu :
Pertama : Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras. Pendidikan dan pembentukan kepribadian untuk mengatasi pubersitas. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan Kyai Imam Besari, yang didasari oleh cinta kasih dan mengakibatkan Bagus Burham memiliki jiwa halus, teguh dan berkemauan keras.
Kedua : Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa. Pembentukan jiwa seni oleh neneknya sendiri, Raden Tumenggung Sastranagara, seorang pujangga berpengetahuan luas. Dalam hal pendidikan, RT. Sastranagara amat terkenal dengan gubahannya Sasana Sunu dan Dasanama Jarwa. Dari neneknya, Bagus Burham mendapatkan dasar-dasar tentang sastra Jawa.
Ketiga : Pembentukan rasa harga diri, kepercayaan diri dan keteguhan iman diperoleh dari Gusti Pangeran Harya Buminata. Dari pangeran ini, diperoleh pula ilmu Jaya-kawijayan, kesaktian dan kanuragan. Proses inilah proses pendewasaan diri, agar siap dalam terjun kemasyarakat. dan siap menghadapai segala macam percobaan dan dinamika kehidupan.Bagus Burham secara kontinyu mendapat pendidikan lahir batin yang sesuai dengan perkembangan sifat-sifat kodratiahnya, bahkan ditambah dengan pengalamannya terjun mengembara ketempat-tempat yang dapat menggernbleng pribadinya. Seperti pengalaman ke Ngadiluwih, Ragajambi dan tanah Bali. Disamping gemblengan orang-orang tersebut diatas, terdapat pula bangsawan keraton yang juga memberi dorongan kuat untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga karier dan martabatnya semakin meningkat. Tanggal 28 Oktober 1818, ia diangkat menjadi pegawai keraton dengan jabatan Carik Kaliwon di Kadipaten Anom, dengan gelar Rangga Pujangga Anom, atau lazimnya disebut dengan Rangga Panjanganom.
Bersamaan dengan itu, Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.
Sekembali dari berguru, ia tinggal di Surakarta melaksanakan tugas sebagai abdi dalem keraton. Kemudian ia dianugerahi pangkat Mantri Carik dengan gelar Mas ngabehi Sarataka, pada tahun 1822. Ketika terjadi perang Diponegoro (th.1825-1830), yaitu ketika jaman Sri Paduka PB VI, ia diangkat menjadi pegawai keraton sebagai Penewu Carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang selanjutnya bertempat tinggal di Pasar Kliwon. Dalam kesempatan itu, banyak sekali siswa-siswanya yang terdiri orang-orang asing, seperti C.F Winter, Jonas Portier, CH Dowing, Jansen dan lainnya. Dengan CF.Winter, Ranggawarsita membantu menyusun kitab Paramasastra Jawa dengan judul Paramasastra Jawi. Dengan Jonas Portier ia membantu penerbitan majalah Bramartani, dalam kedudukannya sebagai redaktur. Majalah ini pada jaman PB VIII dirubah namanya menjadi Juru Martani. Namun pada jaman PB IX kembali dirubah menjadi Bramartani.
Bagus Burhan diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845.
Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.
Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.
Dan mengenai ramalan tentang kemerdekaan Indonesia, Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda. Ia menyaksikan sendiri bagaimana penderitaan rakyat Jawa, terutama ketika program Tanam Paksa dijalankan pasca Perang Diponegoro. Dalam suasana serba memprihatinkan itu, Ranggawarsita meramalkan datangnya kemerdekaan, yaitu kelak pada tahun Wiku Sapta Ngesthi Janma.
Kalimat yang terdiri atas empat kata tersebut terdapat dalam Serat Jaka Lodang, dan merupakan kalimat Suryasengkala yang jika ditafsirkan akan diperoleh angka 7-7-8-1. Pembacaan Suryasengkala adalah dibalik dari belakang ke depan, yaitu 1877 Saka, yang bertepatan dengan 1945 Masehi, yaitu tahun kemerdekan Republik Indonesia.
Pengalaman pribadi Presiden Soekarno pada masa penjajahan adalah ketika berjumpa dengan para petani miskin yang tetap bersemangat di dalam penderitaan, karena mereka yakin pada kebenaran ramalan Ranggawarsita tentang datangnya kemerdekaan di kemudian hari.
Namun Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24.
Sumber :
http://www.karatonsurakarta.com/ronggowarsito.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Rangga_Warsita#Puncak_Kejayaan_Karier
Senin, 22 Desember 2014
Penerapan Filsafat Eksistensialisme dalam Komponen Pendidikan
A. Pengertian filsafat eksistensialisme
Eksistensialisme adalah filsafat yang memusatkan pada kebebasan individu (apa yang dilakukan orang ditentukan oleh orang itu sendiri, bukan oleh hukum sosial atau struktur sosial). Eksistensialisme sebagai suatu gerakan dapat ditelusuri asalnya dari soren Kierkegaard (1813-1855) dan berutang banyak pada tulisan-tulisan friedrich nietzsche. Penekanan pokok Kierkegaard adalah pada teori subjektivitas kebenaran, yeng telah menjadi landasan bagi keseluruhan pendekatan eksistensis.
Eksistensialisme Memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif , subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini : jean paul satre, soren kierkagaard, martin buber, martin Heidegger, karl jasper, gabril marcel, paul Tillich.
B. Kajian eksistensialisme tentang ontologi :
Filsafat eksistensialisme merupakan salah satu paham yang muncul dikarenakan ketidakpuasan beberapa filosof terhadap filsafat pada masa yunani hingga modern. Mulai dari materialisme, idealisme, hingga reaksi terhadap dunia pada umumnya dan khususnya Eropa Barat yang saat itu sedang mengalami perang dunia ke II. Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia, sama seperti hewan dan pohon yang ada di dunia. Namun, cara berada manusia berbeda dengan benda-benda lain. Manusia menyadari dirinya berada di dunia, mereka menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti apa yang dihadapinya berbeda dengan hewan dan benda-benda mati lainnya. Manusia mengerti guna pohon, mengerti bahwa hidup mereka memiliki arti.
Munculnya eksistensialisme merupakan gerakan filosofis yang muncul di Jerman setelah perang dunia I dan berkembang di Perancis setelah perang dunia II. Kemudian munculnya eksistensialisme juga didorong oleh situasi dunia secara umum, terutama dunia Eropa barat. Pada waktu itu kondisi dunia pada umumnya tidak menentu akibat perang. Dimana-mana terjadi krisis nilai. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Manusia melupakan individualitasnya, dari sanalah para filosofberfikir dan mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut. Dari proses itulah lahir eksistensialisme.
Eksistensialisme menyeruak dunia filsafat semenjak perang dunia II (sutrisno : 1987). Diantara para tokohnya adalah Heidegger, Gabriel eksistensialisme a marcel, nietsze, kieerkegaard, Sartre, jaspers, dan levinas. Dan yang dianggap bapak dalah soren kiekeergaard.
C. kajian eksistensialisme tentang epistemologis
seperti yang telah kita amati, tekanan yang berlebihan pada logika analitik sering menimbulkan pandangan yang mengabaikan semua mitos dalam pencarian system ilmiah. Sejauh mana filsuf-filsuf membolehkan cara pikir mitologis untuk membedah realitas berdasarkan fakta-fakta dan memainkan peran untuk mengukur sejauh mana mereka mengakui beberapa bentuk logika sinetik sebagai komplemen logika analitik yang sah. Ini berlaku dalam ajaran filsafat eksistensialisme.
Filsafat eksistensialisme, sebuah aliran yang pendukung-pendukungnya cenderung lebih menekankan logika sinetik daripada logika analitik. Gerakan ini berpengaruh dominan di dunia filsafat yang disebut “daratan”, khususnya selama abad ke-20. Pada realitasnya, banyak hal dalam kegiatan keempat mata kuliah ini yang mengenai persoalan-persoalan yang diangkat terutama oleh para filsuf eksistensialis dalam upaya mereka untuk menerapkan pemikiran filosofis untuk meningkatkan pemahaman kita tentang pengalaman manusia yang konkret.
D. kajian eksistensialisme tentang aksiologis
smith dan rapper menyebutkan bahwa filsafat eksistensialisme ini merupakan filsafat para pemberontak. Untuk dapat melacak kajian aksiologi dapat dilihat pada dampak yang muncul dari ajaran filsafat eksistensialisme, salah satunya dapat kita lihat dari pengaruh pemikiran eksistensialisme dalam teologi politik. Teologi politik yang dimaksud adalah suatu pandangan politik yang menganut asas keyakinan dibidang politik tertentu, yang salah satunya menganut prinsip filsafat eksistensialisme. Sebagai contoh adalah pengaruh filsafat eksistensialisme dalam konsep teologi politik carl-schmith.
Aksiologis juga berhubungan erat dengan nilai (etika dan estetika). Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih dan diambil. Etika sebagai tuntunan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti orang. Nilai keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya.
E. Aliran eksistensialisme dengan pendidikan
Kalangan eksistensialisme “terganggu” akan apa yang mereka dapatkan pada kemapanan pendidikan. Mereka dengan segera menegaskan bahwa banyak dari apa yang disebut pendidikan yang sebenarnya tidaklah apa-apa kecuali propaganda yang digunakan untuk melihat audiens. Mereka juga mengungkapkan bahwa banyak dari apa yang dewasa ini dianggap pendidikan sejati adalah sesuatu yang membahayakan, karena ia menyimpan peserta didik untuk konsumerisme atau menjadikannya sebagai tenaga penggerak dalam mesin teknologi industrial dan biroklasi modern. Bukan malah mengembangkan individualitas dan kreativitas, keluh kalangan eksisteansialis, banyak pendidikan justru memusnahkan sifat-sifat kemanusiaan yang pokok. Eksistensialisme sangat berhubungan erat dengan pendidikan karena pusat pemkiran eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Penerapan filsafat eksistensialisme dalam komponen pendidikan antara lain :
a) Tujuan pendidikan
Menurut aliran eksistensialisme tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif kepada para siswa dalam semua bentuk kehidupan.
b) Kurikulum
Eksistensialisme menyatakan bahwa Kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang memberikan kebebasan individual yang luas bagi para siswa agar mereka mampu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanaan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri. Dengan kata lain, yang diutamakan adalah kurikulum liberal, yang merupakan landasan bagi kebebasan manusia.
Menurut eksistensialisme, mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Menurut aliran ini, semua mata pelajaran memiliki kedudukan sama. Karena setiap anak membutuhkan mata pelajaran yang berbeda untuk membantu menemukan dirinya.
c) Proses belajar mengajar
Salah satu tokoh aliran eksistensialisme, martin buberberpandangan tentang “dialog”. Inilah yangmenjadi pengaplikasian konsep belajar mengajar aliran ini. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadimerupakan subjek bagi yang lainnya. Adapun lawan dari dialog adalah “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain sebagai objek. Dalam penerapannya, kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa untuk mengikuti kehndak guru, dimana guru menjadi penguasanya. Agar hubungan antara guru dengan murid menjadi suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan pada murid harus menjadi pengalaman pribadi guru itu, sehingga akan terjadi pertemuan antara pribadi dengan pribadi.
d) Peran guru
Peran guru bagi kalangan eksistensialisme tidaklah sebagaimana peran guru dalam paham tradisional. Guru eksistensialisme bukanlah sosok yang mempunyai jawaban-jawaban benar tak terbantahkan. Ia lebih sebagai seseorang yang berkemauan membantu para subjek didik mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin. Di dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensialisme menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar.
F. Tiga kajian dalam filsafat ekstensialisme
a. Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuann yang dimiliki oleh setiap manusia. Epistemologi adalah cabang ilmu fiilsafat yang menegarai masalah-masalah flosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang ersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). atau lebih dengan kata lain, epistemology adalah bagan filsafat yang meneliti asal-usul , asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.
Dengan memperhatikan definisi epistemologi, bisa dikatakan bahwa tema dan pengkajian epistemologi adalah ilmu, makrifat dan pengetahuan. Dalam hal ini, dua poin akan dijelaskan sebagai betikut :
1) Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushuli. Ilmu iitu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukan batasan dari ilmu itu.
2) Sudut pembahasan, yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat, maka dari sudut mana subyek ini dibahas, karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi, logika, dan pikologi.
b. Ontologi
Ontologi adalah bagian metafisikayang mempersoalkan tentang hal-hal yang berkenaan dengan segala sesuatu yang ada . dari berbagai definisi dapat disimpulkan bahwa ontologi adalah salah satu bagian penting dalam flisafat yang membahas atau mempermasalhkan hakikat-hakikat semua yang ada baik abstrak maupun rill. Ontologi disini membahas semua yang ada secara universal, berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan meliputi semua realitas dalam segala bentuknya. Jadi objek dari ontologi adalah segala yang ada dan tidak terikat pada satu perwujudan tertentu (hakikat). Hasbullah bakry mengatakan bahwa ontologi mempersoalkan bagaimana menerangkan hakekat segala yang ada baik jasmani maupun rohani dan hubungan antara keduanya.
Dalam penyelesaian masalah dan pertanyaan tentang hakekat, lahirlah mazhab-mazhab ontologi yang mencoba menjawab semuanya melalui beberapa pendekata yang berbeda yaitu : naturalism, materialisme, idealism, hylomorphisme, dan logic empirisme.
1) Naturalisme
Menurut hasbullah bakry naturalism juga mempersoalkan bagaimana menerangkan hakikat segala yang ada baikk rohani maupun jasmani serta hubungan keduanya. Penganuut naturalism modern beranggaan bahwa kategori pokok tentang kenyataan adalah kejadian-kejadian kealaman. Jadi menurut paham naturalism ini semua kenyataan itu bersifat kealaman yang dapat diketahui dengan berbagai kejadian alam.
2) Materialisme
Materialism adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri dan merupakan unsure-unsur yang membentuk alam. Menurut penganut materialism hakikatdari suatu benda adlah benda itu sendiri atau wujud materi dari benda tersebut dan dunia fisik itu adalah satu.
3) Idealisme
Idealism adalah pendangan dunia metafisik yang mengatakan bahwa realitas terdiri atas atau sangat erat hubungannya dengan ide-ide, fikiran, akal dan jiwa. Jadi, idealism juga merupakan ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian yang terdapat dalam ruang sampai pada hakikat terdalam dengan menggunakan ide, akal, fikiran-fikiran dan jiwa atu ruh.
4) Hylomorphisme
5) Secara etimologi Hylomorphisme berasal dari bahasa yunani yaitu hylo yang berarti materi atau substansi dan morph atau bentuk. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak satu halpun yang ragawi itu bukan merupakan kesatuan dari esensi dan eksistensi. Esensi adalah segi tertentu dari yang ada yang memasuki akal kita sehingga dapat diketahui atau wujud nyata suatu benda yang pertama kali dapat menyentuh akal kita saat melihatnya. Sedangkan eksistensi adalah hal-hal yang satu demi satu bersifat khusus, mandiri dan mempunyai sarana lengkapmuntuk berada dan berbuat.
6) Logic empirism
Logika adalah ilmu yang memberikan peraturan-peraturan yang harus diikuti agar dapat berfikir valid, sedangkan empiris adalah pengalaman-pengalaman atau fakta. Jadi logic empirism disini adalah semua pandangan yang sampai saat ini telah dibicarakan mendasarkan diri pada penalaran akal dan semuanya memakai perangkat fakta yang sama sebagai landasan penopang untuk menunjukan kebenarannya.
c. Aksiologi
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. aksiologi adalah istilah yangberasal dari kata yunani yaitu axios yang berarti sesuai atau wajar, Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Aksiologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu snediri. Jadi aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yg sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dalam aksiologi ada dua ppenilaian yang umum digunakan yaitu:
1) Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Dalam perkembangan sejarah etika ada empat teorietika sebagai system filsafat moral yaitu hedonism, eudemonisme, utiliterisme, dan deontologi. Hedonisme adalah pandangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan kesesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan, dan adapun tujuan dari manusia itu sendiri adalah kebahagiaan.
2) Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan.
Daftar pustaka
http://ekameliyakin.wordpress.com/2013/06/26/aliran-eksistensialisme-filsafat-pendidikan/
http://www.jaringankomputer.org/filsafat-pendidikan-dan-aliran-filsafat-pendidikan/
http:/philosopherscommunity.blogspot.in/2012/05/filsafat-ontologi-epistemologi-dan.html?m=1/
surajiyo,Des.2005.ilmu filsafat (suatu pengantar), djakarta:bvumi aksara
http://tahdits.wordpress.com/2013/01/13/pemikiran-filsafat-eksistensialisme/
Langganan:
Komentar (Atom)